MENANGKAL MITOS SEPUTAR MADU

Madu Merupakan bahan alami berkhasiat yang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat muslim di Indonesia. Bahwa madu sebagai bahan nutrisi telah diakui dan terbukti dalam kehidupan sehari-hari baik secara empiris maupun riset ilmiah. Keunggulan madu dibandingkan dengan bahan nutrisi yang lain adalah karena rasanya yang manis yang tentu akan lebih mudah dikonsumsi oleh semua kalangan baik anak-anak maupun dewasa.

Data konsumsi madu per kapita masyarakat Indonesia masih rendah. Yakni hanya 10 hingga 15 gram per tahun. Artinya tiap orang di Indonesia rata-rata mengkonsumsi madu hanya satu sendok makan  per tahun (data dari Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, 2011). Bandingkan dengan masyarakat Jepang atau Australia yang konsumsi madu per kapitanya 1.600 gram atau sekitar seratus sendok makan per tahun per orang.

Konsumsi Madu yang rendah ini dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya:

  1. Minimnya informasi dan pengetahuan tentang madu.
  2. Rasa manis madu menjadikan orang takut mengkonsumsi karena khawatir diabetes, hal ini melahirkan segmen produk madu pahit
  3. Konsistensi kental madu dan rasa manisnya menjadikan sebagian anak mual
  4. Terbatasnya produksi Madu Nasional

Berkaitan dengan poin 1, masih beredar di masyarakat banyak mitos tentang keaslian madu. Diantaranya:

  1. Madu Asli tidak dirubung semut. Jika dikerubungi semut maka palsu.

Ini mitos yang masih dipegang kuat sebagian masyarakat. Yang sebenarnya adalah, madu asli yang masih bercampur dengan lilin atau malam dari lebah, maka tidak akan didatangi semut karena lilin/malamnya tersebut. Ketika sudah diekstrasi dan disaring, maka lilinnya hilang dan madu asli tersebut tetap disukai semut. Selain itu karena kadar air madu. Kadar air rendah tidak mudah disemuti.

  1. Jika batang korek api dimasukkan ujungnya ke dalam madu lalu dinyalakan, maka akan menyala jika madunya asli.

Ini juga mitos, karena ini hanya berkaitan dengan kadar air madu. Madu asli yang kadar airnya rendah akan bisa begitu. Namun madu asli yang kadar airnya tinggi, akan menghalangi nyala korek api dikarenakan basah.

  1. Jika madunya mengkristal maka berarti palsu dan terbuat dari gula pasir, karena kristalnya tersebut adalah endapan gulanya.

Ini juga mitos, karena madu aslipun juga dapat mengkristal. Kandungan gula utama di dalam madu adalah fruktosa dan glukosa, yang menyebabkan kristalisasi adalah glukosa karena glukosa memiliki tingkat kelarutan yang lebih rendah dibandingkan fruktosa. Ketika glukosa mengkristal ia akan terpisah dari air dan membentuk kristal yang halus teksturnya. Kecepatan pembentukan kristal pada madu tergantung terutama pada perbandingan fruktosa dan glukosa pada madu. Madu dengan kadar glukosa yang lebih tinggi daripada fruktosanya akan mengkristal lebih cepat.

  1. Madu yang mengeluarkan busa justru madu yang bagus dan asli.

Ini belum tentu juga. Karena makin banyak busa menunjukkan madu sudah terfermentasi yang berarti madu mengalami perubahan. Fermentasi yang makin parah akan merusak madu dan menghilangkan manfaat utamanya. Busa menunjukkan adanya enzim diastase yang merupakan enzim ludah lebah.

MENANGKAL MITOS SEPUTAR MADU

PRODUK MADU ASLI DARI HABBAT’S : MADU ROYAL FIRDAUS

Ada 10 keunggulan yang membuktikan bahwa Madu Royal Firdaus merupakan MADU ASLI ALAMI dan berkualitas tinggi.

  1. Bebas Sukrosa (Gula Pasir)
  2. Ketiadaan Gula Pasir indikasi dari Madu Asli Alami
  3. Halal
  4. Kadar Air 13,36%  (SNI maksimal 22% dan Internasional (FAO) 20%)
  5. Kemasan botol kaca (menghalangi udara masuk)
  6. Tidak mudah terfermentasi menjadi khamr
  7. Dari Nektar tumbuhan raja obat
  8. Bebas cemaran logam berbahaya
  9. Relatif aman bagi penderita diabetes
  10. Harga ekonomis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *